4 Waduk di Selogiri hanya cukup untuk sekali MT


Kondisi air di empat waduk yang ada di Kecamatan Selogiri, Wonogiri saat musim kemarau ini telah menyusut. Volume air waduk yang ada saat ini hanya cukup untuk sekali musim tanam dengan luas cakupan antara tiga hektare hingga 152 hektare lahan.

Empat waduk di Selogiri itu adalah Waduk Krisak, Waduk/Bendung Colo, Waduk Kepatihan dan Waduk Pakis di Desa Kepatihan. Pernyataan itu disampaikan Camat Selogiri, Bambang Haryanto saat ditemui Espos di ruang kerjanya, Rabu (10/8/2011).

Menurut Bambang, ketinggian air Waduk Krisak tinggal 9,5 m3 namun tinggi sedimentasi mencapai 5 m sehingga volume air tinggal 4,5 m3. “Kandungan air Waduk Krisak hanya cukup untuk mengairi lahan persawahan seluas 52 hektare (ha) dan lahan palawija seluas 152 ha. Tanaman padi pun hanya wilayah Singodutan dan Kaliancar tidak bisa mengalir ke dataran yang lebih rendah lagi. Sedang tanaman palawija yang tercukupi air dari Waduk Krisak hanya di Desa Singodutan, Kaliancar dan Gemantar.”

Waduk atau Bendung Colo, jelas mantan Camat Puhpelem ini, ketinggian air tinggal 6 m3/detik. “Per 1 Oktober, Bendung Colo akan ditutup untuk perawatan. Penutupan itu sudah agenda rutin tahunan sehingga kandungan air saat ini hanya mencukupi kebutuhan air di lahan persawahan seluas 130 ha dan lahan palawija seluas 152 ha.”

Lebih lanjut dijelaskan oleh mantan Camat Slogohimo, ketinggian air di Waduk Kepatihan dan Waduk Pakis jauh lebih sedikit dibanding Waduk Krisak dan Colo. Menurutnya, air dari Waduk Kepatihan hanya cukup untuk mengaliri lahan persawahan seluas 6 ha dan lahan palawija seluas 8 ha sedangkan Waduk Pakis hanya mampu mengaliri 3 ha lahan sawah dan 20 ha lahan palawija. “Lahan yang terkena oncoran air Waduk Pakis dan Kepatihan hanya di Desa Kepatihan.”

Dia berharap, masyarakat tidak menuruti kemauan sendiri agar tidak boros. Dicontohkannya, tiga kali melakukan penyebaran benih padi, petani Selogiri selalu gagal panen. “Biaya yang dikeluarkan sudah cukup tinggi, jika MT III ini nekat menanam padi, jangan menyalahkan pemerintah karena kandungan air di waduk sudah berkurang.”

Ketua Gapoktan Dewi Sri, Selogiri, H Mardjuni mengatakan, Selogiri menjadi daerah ketercukupan air. “Karena cukup air, petani terlena sehingga tiga kali musim tanam menanam padi. Kami berharap, pola pikir petani berubah. Petani mau menanam palawija, seperti jagung ataupun tanaman lain. Kami berencana MT II ditanam palawija.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: