Kekeringan wilayah selatan Wonogiri ancam ternak


Kekeringan yang melanda wilayah selatan Wonogiri tak hanya berdampak kesulitan air bersih bagi warga, namun juga mengancam kelangsungan hidup ternak karena kekurangan pakan.
Tak mau menanggung risiko, mayoritas warga setempat memilih menjual ternak tersebut.
Pantauan Espos di wilayah Pracimantoro, Giritontro, hingga Paranggupito belum lama ini, hampir tidak tersisa lagi warna hijau. Lahan pertanian, bukit maupun ladang mengering dan berwarna kecoklatan.
Salah seorang warga Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Sugiarto mengungkapkan untuk mendapatkan rumput dan daun hijau sebagai pakan ternak, belakangan warga harus pergi ke tepi laut. Karena hanya di tempat itulah warga bisa menemukan rumput dan ilalang hijau.
“Tapi jarak ke laut cukup jauh. Dari sini (Gudangharjo-red) warga harus berjalan sekitar 1,5 km. Padahal belum tentu rumput yang didapat cukup untuk pakan ternak. Sedangkan kalau mau beli pakan ternak dari penjual juga harus pergi ke Pracimantoro. Saya sudah lihat beberapa warga yang akhirnya memilih menjual ternak mereka,” jelas Sugiarto, saat dihubungi Espos, Minggu (21/8/2011).
Selain karena khawatir ternaknya sakit atau mati kekurangan pakan dan air, Sugiarto mengatakan warga juga butuh uang untuk membeli air bersih. Saat ini harga air bersih di wilayah itu per tangkinya mencapai Rp 130.000. Harga itu bisa lebih mahal jika warga ingin air bersih yang dibeli itu diantar cepat atau tidak mau mengantre. Apalagi saat mendekati Lebaran harga air akan terus meningkat.
Terpisah, anggota DPRD asal Giritontro, Sutarno SR mengatakan musim kemarau ini memang ada dua masalah yang dihadapi warga secara berbarengan, yakni kekurangan air bersih dan pakan ternak. Menurut Sutarno, memang ada pedagang yang khusus menyediakan pakan ternak berupa pohon jagung, mulai dari Giribelah, Kecamatan Giritontro, hingga Pracimantoro.

“Mereka biasanya berdagang musiman. Kalau sudah masuk kemarau mereka mulai menjual pakan ternak. Mereka berjualan dengan mendirikan lapak-lapak di pinggir jalan. Di Pracimantoro yang paling banyak. Tapi meskipun begitu, banyak warga yang lebih memilih menjual ternak mereka,” kata Sutarno.
Pakan ternak dimaksud biasanya berupa pohon jagung yang sengaja ditanam tapi tidak dipanen kemudian dipotong untuk dijual. Pohon-pohon jagung itu biasanya dibagi dalam ikatan-ikatan (unting) dan dijual Rp 10.000 per tiga unting. Namun karena pakan ternak jenis itu hanya tahan 2-3 hari, banyak pula pedagang yang menurunkan harga menjadi Rp 10.000 per lima unting agar bisa habis sebelum membusuk atau mengering.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: